TERIMA KASIH atas kunjungan ANDA

Jumat, 08 Juli 2011

Satelit Tertua Milik Indonesia

1. Satelit Palapa A1 (1976) Satelit pertama di Indonesia

Palapa ialah nama bagi sejumlah satelit telekomunikasi geostasioner Indonesia. Nama ini diambil dari “Sumpah Palapa”, yang pernah dicetuskan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334.

Satelit pertama diluncurkan pada tanggal 8 Juli 1976 oleh roket Amerika Serikat dan dilepas di atas Samudera Hindia pada 83° BT. Satelit pertama dari 2 satelit itu bertipe HS-333 dan bermassa 574 kg.

Kemudian 4 satelit dari seri kedua dibuat, yang kesemuanya dari tipe Hughes HS-376. Ketika peluncuran Palapa B2 gagal, satelit ke-3 diatur. Awalnya bernama Palapa B3 dan dijadwalkan untuk STS-61-H, akhirnya diluncurkan sebagai Palapa B2P. Sementara itu Palapa B2 diperbaiki kembali oleh STS-51-A, diperbaharui dan diluncurkan lagi sebagai Palapa B2R.


2. Sateli Palapa A2 (1977)

Palapa A2 adalah satelit komunikasi milik Indonesia dan dioperasikan oleh Perumtel. Palapa A2 diluncurkan pada tanggal 10 Maret 1977 dengan roket Delta 2914 dan beroperasi di orbit 77 BT sejak tanggal 11 Maret 1977 hingga bulan Januari 1988, 4 tahun melewati masa operasional yang direncanakan.

Program satelit Palapa A dimulai saat Pemerintah Indonesia memberikan 2 kontrak terpisah pada Boeing Satellite Systems (dahulu dikenal dengan Hughes Space and Communication Inc.) dari Amerika Serikat untuk menyediakan 2 satelit (Palapa A1 dan A2), sebuah stasiun kontrol utama untuk kedua satelit tersebut dan 9 stasiun bumi. Pembangunan 10 stasiun tersebut diselesaikan dalam waktu 17 bulan, salah satu yang tercepat bagi Boeing. Pada kontrak terpisah, dibangun total 30 stasiun bumi lainnya untuk dioperasikan oleh Perumtel. Nama Palapa sendiri dipilih oleh Presiden Suharto pada bulan Juli 1975. Satelit Palapa A2 dimaksudkan sebagai cadangan dan siap untuk dioperasikan apabila Palapa A1 mengalami kegagalan, atau jika permintaan pasar tidak dapat lagi diakomodasi oleh Palapa A1.


3. Satelit Palapa B2P (1987)


Satelit Palapa B2P adalah satelit yang mengitari orbit geosynchronous dan bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan yang sama dengan rotasi Bumi. Satelit ini terletak pada ketinggian 36.000km diatas khatulistiwa pada lokasi 113°BT dan dikendalikan oleh stasiun yang terletak di Bumi tepatnya di daerah Cibinong. Satelit Palapa merupakan satelit relay bagi stasiun bumi yang selanjutnya memancarkan kembali siaran ke televisi dengan transponder Palapa yang bekerja pada jarak 6 gigahertz dengan kekuatan pancar 10 watt.

Satelit Palapa B2P yang sesungguhnya dibuat untuk keperluan domestik serta ditujukan untuk disewakan ke mancanegara ternyata mampu menjaring bisnis yang sangat baik, dan karenanya Palapa B2P menjadi satelit rebutan. Para penyelenggara penyiaran (CNN, ESPN) menggunakan Palapa B2P, sehingga masyarakat yang berada dalam area cakupan Palapa B4 dapat menerima program-progam mereka.


4. Satelit Palapa C1 (1996)


Satelit Palapa C1 adalah satelit komunikasi pertama dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C1 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 31 Januari 1996 di Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral (LC-36B) AS, menggunakan roket Atlas 2AS. Satelit ini dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa B4 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT dengan rentang operasi selama 7 tahun. Namun setelah terjadi kegagalan pengisian battery pada tanggal 24 November 1998 akhirnya Palapa C1 dinyatakan tidak layak beroperasi dan digantikan oleh Palapa C2.

5. Satelit Palapa C2 (1996)

Satelit Palapa C2 adalah satelit komunikasi kedua dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C2 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 15 Mei 1996 di Kourou, Guyana Perancis (Ko ELA-2), menggunakan roket Ariane-44L H10-3. Satelit ini beroperasi pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT di ketinggian 36.000 km di atas permukaan bumi. Operasional satelit ini berpindah tangan ke PT. Indosat Tbk. akibat penggabungan Satelindo dengan Indosat. Demi memberi tempat bagi Satelit Palapa D, rencananya orbit satelit ini dipindah ke 105,5° BT.

6. Satelit TELKOM-2 (2005)

Telkom-2 adalah satelit yang diluncurkan Telkom ke angkasa untuk menggantikan satelit Palapa B4. Satelit ini dibawa ke angkasa dengan menggunakan roket Ariane 5 dari Kourou di Guyana Perancis pada tanggal 16 November 2005.

Telkom-2 memiliki umur operasi selama 15 tahun dan bernilai sekitar 170 juta dolar AS. Sekitar 70 persen kapasitas transponder Telkom-2 akan disewakan kepada pihak luar.

Dari 30 persen kapasitas yang akan digunakan sendiri oleh Telkom, satelit buatan Orbital Sciences Corporation ini diharapkan akan mendukung sistem komunikasi transmisi backbone yang meliputi layanan telekomunikasi sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), sambungan langsung internasional (SLI), internet, dan jaringan komunikasi untuk kepentingan militer.

Satelit ini akan beredar di orbit 118° BT dengan kapasitas 24 transponder C-band dan berbobot 1.975 kg. Daya jangkaunya mencapai seluruh ASEAN, India dan Guam.

7. Satelit INASAT-1 (2006) Satelit Pertama buatan Indonesia

INASAT-1 adalah Nano Hexagonal Satelit yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk pertama kalinya. INASAT-1 merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN.

Selain itu INASAT-1 adalah satelit Nano alias satelit yang menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 kg. Satelit itu dirancang dengan misi untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan (berupa fluks magnet didefinisikan sebagai muatan ilmiah) maupun housekeeping yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit.

Adapun satelit itu dirancang bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), khususnya Pusat Teknologi Elektronika (Pustek) Dirgantara. Berbekal nota kesepakatan antara LAPAN, Dirgantara Indonesia, serta dukungan dana dari Riset Unggulan Kemandirian Kedirgantaraan 2003, maka dimulailah rancangan satelit Nano dengan nama Inasat-1 (Indonesia Nano Satelit-1).

Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu, sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km.

8. Satelit LAPAN-TUBSAT (2007) Satelit Mikro Pertama di Indonesia.



LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.

Manuver attitude ini dilakukan dengan menggunakan attitude control system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk navigasi satelit. Komponen-komponen inilah yang membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah vertikal ke bawah.

Sebagai satelit pengamatan, satelit ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat. Tapi pengamatan banjir akan sulit dilakukan karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang biasanya menyertai kejadian banjir.

9. Indostar II / Cakrawarta II (2009)

Indostar II atau Cakrawarta II adalah satelit yang diluncurkan oleh PT Media Citra Indostar (MCI) yang mengelola dan mengoperasionalisasi satelit Indovision. Satelit ini diluncurkan dengan menggunakan roket peluncur Proton Breeze milik Rusia dan lepas landas melalui Baikonur Cosmodome di Kazahkstan. Peluncuran satelit Indostar II ini telah berlangsung pada tanggal 16 Mei 2009.

10. Satelit Palapa D (2009)

atelit Palapa D (kode internasional = 2009-046A) adalah satelit komunikasi Indonesia yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Indosat Tbk dan diluncurkan pada tanggal 31 Agustus 2009 pukul 16:28 WIB di Xichang Satellite Launch Center (XSLC) menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space, Perancis, dan dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa C2 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT yang akan selesai masa operasionalnya pada tahun 2011.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8877064

Minggu, 19 Juni 2011

Foto-foto Musim Haji Tahun 1953






Kalimat Labbaikallahumma Labbaik terngiang kembali saat melihat kumpulan foto foto jadul musim haji tahun 1953 dibawah ini.

Foto jadul ini adalah kumpulan foto-foto musim haji yang terangkum dalam majalah National Geographic tahun 1953.
Terlihat kota mekah masih terasa sepi, sangat jauh berbeda dengan keadaan sekarang dimana kota mekah telah menjadi
salah satu kota modern di dunia.


















sumber http://www.dakdem.com/galeri/23-foto/237-foto-foto-musim-haji-tahun-1953-jadul-ed

Hari Ini Hari Nelayan Indonesia, Ayo Makan Ikan..!



Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan mencatat bahwa dalam periode Januari – Februari 2011, sebanyak 32 orang nelayan hilang dan satu orang meninggal dunia. Para nelayan itu tewas saat mencari ikan di laut. Nelayan bertahan hidup tanpa perlindungan negara. Tingginya ombak di laut justru dibiarkan hingga hutang nelayan membengkak.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memang telah memperkirakan cuaca ekstrem akan berlangsung hingga April 2011. Akan tetapi, di masa sulit itu, uluran tangan pemerintah terasa seperti setetes air di tengah gurun pasir. Cuaca ekstrem selama musim angin barat ini justru disebut sebagai bencana sosial, bukan bencana alam yang mengancam keselamatan 2,7 juta jiwa nelayan dan lebih dari dua puluh juta keluarganya.

Abas, 40 tahun, seorang nelayan dari Marunda, Jakarta, adalah satu contoh nelayan yang melesu. Mukanya murung. Sudah beberapa hari ini ia mengaku tidak melaut. Cuaca ekstrem yang melanda Laut Jawa tak memungkinkan dirinya melaut. Bagi Abas, tidak melaut sama saja mematikan asap dapurnya. Padahal, ia harus menghidupi dua anak dan satu istri.

Melaut adalah gantungan hidup satu-satunya yang telah dilakoni Abas selama lebih dari dua puluh tahun. Kini, ketika cuaca ekstrem melanda, Abas nyaris tidak memiliki pendapatan. Ia hanya menambal kebutuhan hidup dari hasil memulung sampah plastik.

“Hasil mulung paling hanya laku lima belas ribu rupiah,” kata Abas dalam pernyataan pers Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, Selasa (5/4), di Jakarta.

Abas tak sendiri. Masih banyak nelayan yang bernasib sama di Teluk Jakarta, bahkan di seluruh pelosok Indonesia ini. Perahu rekannya ada yang terseret ombak hingga Muara Gembong, Karawang (Jawa Barat), karena kencangnya angin. Beruntung rekannya selamat. Beberapa hari ini, nelayan Marunda pun sudah mulai makan enceng gondok sebagai sayur.

Banyak nelayan masygul menatap hari depan. Bak buah simalakama, nekat melaut nyawa taruhannya, tak melaut sama saja tak makan.

Dalam kondisi demikian, Koalisi mencatat bahwa respon yang dilakukan negara atas krisis multidimensi yang dihadapi nelayan ini justru dengan mengeluarkan kebijakan pengkaplingan laut melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengolalaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Tak hanya itu, proses pembangunan yang tak ramah lingkungan juga terus dilakukan betapapun itu menimbulkan kerugian sosial budaya bagi masyarakat, seperti reklamasi pantai di Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makasar, dan Manado.

Perlakuan diskriminatif ini tak membuat nelayan tinggal diam dalam memperjuangkan hak-hak dasarnya sebagai warga negara maupun hak-hak khususnya sebagai nelayan atau pahlawan protein bangsa.

Bertepatan dengan Hari Nelayan Indonesia yang jatuh pada 6 April 2011, Forum Komunikasi Nelayan Jakarta (FKNJ) dan Kelompok Nelayan Rajungan Kalibaru (KNRK) bersama dengan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Institut Hijau Indonesia, Civil Society Forum (CSF) for Climate Justice, dan Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) pun akan menggelar aksi simpatik di sejumlah daerah.

Di Jakarta, aksi pada pukul 10 WIB hingga selesai dengan sejumlah agenda. Agenda tersebut adalah gerak jalan nelayan dari Patung Kuda ke Mahkamah Konstitusi untuk melalukan orasi dan testimoni tentang Undang-Undang Pesisir. Selanjutnya, aksi diarahkan ke seberang Istana Negara dengan menggelar orasi dan testimoni dari nelayan perempuan.

Di Semarang, Jawa Tengah, aksi dilakukan pada pukul 08.30 WIB hingga 11.30 WIB oleh Jaringan Solidaritas untuk Nelayan (Jala Nelayan). Aksi ini akan dilaksanakan di Bundaran Air Mancur Universitas Diponegoro (Sebelah Selatan Simpang Lima).

Di Langkat, Sumatera Utara, aksi dilakukan pada pukul 10 WIB hingga selesai, mulai dari 6 hingga 11 April 2011. Di sini, peringatan Hari Nelayan Indonesia dilakukan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Regio Sumatera untuk mengingatkan penyelenggara negara agar bertindak maksimal dalam melindungi nelayan tradisional yang hidup di wilayah perbatasan negara. Aksi dipusatkan di Kota Pangkalan Brandan.

Di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, peringatan Hari Nelayan Indonesia dilakukan pada pukul 10 WIT hingga selesai melalui seminar bertajuk “Stop Pembuangan Tailing ke Laut dan Sejahterakan Nelayan” di Gedung Joeang ’45, Selong. Hadir sebagai pembicara adalah Prof. Dr. Agil Al-Idrus, Prof. Dr. Idrus, Lalu Saefudin S.H., M.H., dan Amin Abdullah. Kegiatan yang dilakukan oleh Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Regio Nusa Tenggara bersama organisasi mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat setempat ini dimaksudkan untuk mengingatkan negara agar mengkoreksi kebijakan pertambangan yang berdampak serius terhadap kehidupan nelayan tradisional. Di sini, nelayan memang mengeluh karena limbah tailing yang digelontorkan oleh perusahaan.

logo maker


ALAN FLETCHER
Desainer logo Reuters, Victoria dan Albert Museum and Institute of Directors.
Bersama Colin Forbes dan Bob Gill di tahun 1962 mendirikan Fletcher/Forbes/Gill , sebuah perusahaan desain. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasanya antara lain Pirelli, Cunard, Penguin Books.





BOB GILL
Seorang desainer dengan bakat luar biasa. Dia terkenal dengan desain-desain judul di beberapa film-film terkenal. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasanya antara lain Universal Pictures, Rainbow Theater, Apple Corps records, High Times Magazines.




CHERMAYEFF & GEISMAR
Kedua orang inilah yang mendesain logo Xerox, National Geographic, Mobil Oil, NBC, dan masih banyak lainnya. Mereka mendirikan sebuah perusahaan desain terkenal dengan Armani Exchange, Hearts Coorporations sebagai beberapa client yang menggunakan jasanya.





HERBERT I. LUBALIN
Dia adalah desainer untuk 3 majalah terkenal di luar sana, yakni majalah Eros, Fact dan Avant Garde.



MILTON GLASER
Pasti tau logo I LOVE NEW YORK yang suka di pajang di kaos, topi, tas, sticker, dll kan? Nah inilah sang penciptanya.




PAUL RAND
Sang desainer dari logo IBM yang terkenal dan juga desainer logo ABC. Dia adalah desainer spesialis untuk logo-logo perusahaan. Dia juga salah satu pencetus Swiss Style of Graphic Design. Sampai saat ini masih mengajar di Yale University.



RUTH KEDAR
Sang desainer logo Google. Ruth lahir di Brazil tapi kemudian pindah ke Israel untuk mendapatkan gelar arsitekturnya. Dia melanjutkan pendidikannya di Stanford University dan mendapatkan gelar Master di bidang desain, dan menjadi konsultan seni desain di Stanford selama 15 tahun. Hasil-hasil karyanya dapat di lihat di art.net



SAUL BASS
Seorang multitalenta, Saul Bass adalah seorang desainer dan juga pembuat film. Sebagai seorang desainer, logo hasil karyanya yang paling terkenal diantaranya logo United Airlines, logo Avery International dan logo Continental Airlines



WALLY OLINS
Wally Olins adalah salah satu pribadi yang paling dilirik beberapa perusahaan saat mereka membutuhkan logo untuk produk barunya. Dia adalah pendiri Saffron Consultants di tahun 2001. Dia menerima penghargaan CBE pada tahun 1999 dan dinominasikan pada penghargaan desainer Pangeran Philip pada tahun 1999. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasanya antara lain: Prudentials, Renault, Volkswagen, dan Repsol.



WALTER LANDOR
Pria kelahiran Munich ini adalah desainer logo FedEX. Dia jugalah yang mendesain logo-logo produk seperti FujiFilm, Del Monte, Marlboro, Tab & Bank of America. Dan bukan hanya itu, beberapa perusahaan penerbangan seperti British Airlines, Japan Airlines dan Singapore Airlines juga menggunakan jasa kreatifnya. Keren ya.

Sabtu, 18 Juni 2011

teknologi modern di jaman kuno

Bangga akan apa yang kita capai dalam kemajuan IPTEK. Mungkin kita mengira bahwa pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan lainnya merupakan teknologi canggih yang ditemukan oleh para ilmuwan di zaman modern ini. Tetapi, kita pasti tidak mengira bahwa desain teknologi yang mirip sudah lebih dulu diciptakan oleh peradaban zaman dahulu.

Desain Kincir Angin



Kincir angin Persia kuno merupakan salah satu kincir angin tertua yang pernah dibuat oleh manusia. Kincir angin ini dibuat oleh peradaban Persia sekitar 3000 tahun yang lalu. Kincir angin ini digunakan untuk menggiling gandum dan memompa air.

Tanaman alang - alang diikat menjadi satu sehingga terbentuk bantalan yang diletakkan di sumbu pusat. Kincir angin ini dibuat dengan hati - hati, karena hampir setiap bagian dibuat dengan tangan.

Walaupun mekanismenya sederhana, tetapi kincir angin ini telah dikenal oleh seluruh peradaban lainnya pada masa itu, dan beberapa negara masih menggunakan mekanisme seperti ini hingga di era modern ini. Bisa dibilang, kincir angin kuno ini merupakan cikal bakal kincir angin modern yang digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin.


Menara Angin Persia

Masih dari peradaban Persia kuno, menara angin atau wind tower ini digunakan oleh masyarakat Persia untuk sistem ventilasi udara di rumah - rumah mereka. Sistem ventilasi mereka jauh lebih rumit dari sistem ventilasi yang ada di rumah kita.

Sistem ventilasi yang mereka kembangkan sejak 2.000 tahun yang lalu ini mungkin hanya bisa disaingi oleh sistem ventilasi dengan teknologi modern. Prinsipnya adalah dengan menggunakan kombinasi perbedaan tekanan udara, dan penyesuaian iklim lingkungan di daerah Persia.


Saluran Air Grafitasi Romawi




Bangsa Romawi kuno juga mengembangkan suatu saluran air yang memanfaatkan gravitasi bumi untuk mengalirkan air ke seluruh wilayah Romawi. Selain digunakan untuk mengalirkan air, saluran air gravitasi ini juga digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakatnya, diantaranya untuk roda air, hidrolik penghancur bijih besi, dan lain - lain.

Saluran Bawah Tanah




Karena Yerussalem terletak di dataran tinggi dan jauh dari sumber air, maka kota ini memenuhi kebutuhan air dari sungai bawah tanah. Masyarakatnya telah mengembangkan suatu saluran air bawah tanah yang masih bisa digunakan hingga saat ini, meski telah berumur puluhan ribu tahun.


Pemanfaatan Energi Geothermal

Peradaban Romawi kuno telah memanfaatkan energi panas bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Energi panas bumi berasal dari gunung berapi Vesuvius, yang kemudian memanaskan air di sekitar wilayah tersebut.

Panas yang dihasilkan tadi kemudian digunakan untuk berbagai hal, seperti untuk pemandian air panas, hidrolik, kebutuhan medis, dan lainnya. Jika listrik telah ditemukan pada masa itu, mungkin sumber energi ini bisa dimanfaatkan lebih luas lagi.


Pemanfaatan Energi Surya




Pemanfaatan energi surya telah ditemukan oleh peradaban Yunani kuno. Jika kita menggunakan sel surya sebagai pembangkit tenaga listrik, maka peradaban Yunani kuno menggunakannya sebagai cadangan panas selama musim dingin berlangsung.

Konsepnya begitu sederhana, mereka membuat bangunan yang menghadap ke arah matahari, dan seluruh bangunan didesain seperti itu untuk menangkap sinar matahari sebanyak - banyaknya di siang hari karena sinar matahari lebih rendah dari atap mereka.

Ketika di malam hari, seluruh Peradaban Romawi selangkah lebih maju dengan menambahkan kaca untuk menyerap panas matahari dengan maksimal. Ternyata pemanfaatan tenaga surya itu sudah ada sejak lama ya.


Istana Tebing (Cliff Palace)



Tempat yang disebut dengan Istana Tebing ini terletak di Mesa Verde National Park, Colorado. Bangunan unik ini dibangun oleh masyarakat Amerika Utara pada zaman dahulu. Desain konstruksi yang unik ini memiliki tujuan sebagai pendinginan dari sengatan matahari yang panas pada masa itu.

Kita tidak bisa meremehkan begitu saja bangunan - bangunan zaman dahulu. Terkadang, dengan teknologi modern sekalipun, belum tentu dapat menghasilkan bangunan serupa dengan fungsi yang sama pula. Arsitektur zaman kuno memang luar biasa, menandakan bahwa pencapaian ilmu pengetahuan pada masa itu tergolong maju.

Kebun Raya Eka Karya


Pulau Bali selalu identik dengan Pantai Kuta dan Tanah Lot. Hampir sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bali menyempatkan diri untuk singgah ke dua tempat tersebut. Nyatanya, selain Kuta dan Tanah Lot

, ada lagi obyek wisata yang sayang jika dilewatkan saat mengunjungi Pulau Dewata ini. Obyek wisata tersebut adalah Kebun Raya “Eka Karya” Bali, atau yang juga dikenal sebagai Kebun Raya Bedugul karena terletak di daerah Bedugul.



Kebun Raya Bali merupakan satu dari empat kebun raya yang ada di Indonesia, yakni Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, dan Kebun Raya Purwodadi. Dari keempat kebun raya yang ada di Indonesia tersebut, Kebun Raya Bali merupakan kebun raya dengan usia termuda – usianya tahun ini 51 tahun – dan satu-satunya kebun raya yang didirikan oleh putra-putri daerah tanpa campur tangan pihak kolonial Belanda.



Terciptanya Kebun Raya Bali berawal dari gagasan Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo (Direktur Lembaga Pusat Penyelidikan Alam yang merangkap sebagai Kepala Kebun Raya Indonesia) dan I Made Taman (Kepala Lembaga Pelestarian dan Pengawetan Alam) untuk mendirikan cabang kebun raya di luar Pulau Jawa. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya dipilihlah Bali sebagai lokasi kebun raya yang baru. Tepat pada tanggal 15 Juli 1959, Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo meresmikan Kebun Raya Bali. Nama Eka Karya sendiri diusulkan oleh I Made Taman. “Eka” berarti satu, sedangkan “karya” berarti hasil kerja. Jadi, Eka Karya dapat diartikan sebagai rebun raya pertama yang didirikan atas hasil kerja keras bangsa Indonesia setelah mengalami kemerdekaan.



Kawasan Kebun Raya Bali berada pada ketinggian 1.250-1.450 m dpl dengan suhu 18-20 derajat celcius. Pada awalnya, kebun raya yang memiliki ciri khas koleksi tanaman dataran tinggi kering ini didirikan dengan tujuan untuk mengkoleksi tumbuhan berdaun jarum (Gymnospermae) dari seluruh dunia. Namun, pada perkembangannya kebun raya ini menjadi kawasan konservasi ex-situ tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia seperti Bali, Nusa tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.




Saat ini Kebun Raya Bali memiliki koleksi tumbuhan mencapai 2.171 jenis dan 18.494 spesies tanaman. Jumlah tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun. Selain itu, Kebun Raya Bali juga memiliki koleksi khusus seperti anggrek, kaktus, tumbuhan paku, tumbuhan air, tumbuhan obat, tumbuhan upacara adat, mawar, serta begonia. Bahkan, khusus untuk begonia, Kebun Raya Bali merupakan salah satu kebun raya yang memiliki koleksi begonia terbesar di dunia dengan lebih dari 200 jenis. Hal ini menjadikan Kebun Raya Bali sebagai pusat koleksi dan pengembangan begonia di Indonesia.








Keistimewaan

Konsep yang diusung oleh Kebun Raya Bali sangatlah berbeda dengan konsep kebun raya di Indonesia lainnya. Kebun Raya Bali tidak hanya sebagai pusat konservasi tanaman saja, namun lebih dari pada itu, Kebun Raya Bali juga merupakan perpaduan hutan alam dan tradisi Bali yang lekat dengan nilai-nilai budaya. Bisa dibilang Kebun Raya Bali merupakan simbiosis dari situs purba, kearifan lokal pengobatan, arsitektur, dan sastra lama.

Saat memasuki kawasan Kebun Raya Bali, Anda akan menjumpai gerbang utama yang berbentuk candi bentar (terbelah) seperti yang biasa ditemui di pura-pura Pulau Dewata. Setelah itu, di sepanjang Boulevard Ramayana Anda akan disuguhi pemandangan eksotis yang mengandung wacana sastra lama. Ada jalinan kisah Ramayana yang tersaji melalui deretan 9 patung berukuran besar. Di kanan-kiri patung-patung berjejer deretan bunga kana berwarna merah dengan latar belakang rumput hijau dan lebatnya hutan di kejauhan.

Keunikan lain dari kebun Raya Bali adalah adanya Taman Panca Yadnya seluas 5,53 ha, dengan koleksi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan bangunan, hiasan pura, sesaji, dan kegiatan upacara keagamaan lainnya. Hal ini menunjukkan betapa eloknya harmoni yang tercipta antara Kebun Raya Bali dengan budaya Hindu. Selain Taman Panca Yadnya, di kawasan ini juga terdapat Taman Usada yang memiliki sekitar 300 jenis tumbuhan berkhasiat dalam sistem pengobatan tradisional Bali. Wisatawan yang berkunjung ke tempat ini juga dapat belajar tentang khasiat dari masing-masing tanaman tersebut. Di dalam kebun raya ini wisatawan juga akan mendapati Herbarium Hortus Botanicus Baliense, Taman Mawar, Taman Anggrek, Taman Cyathea (paku-pakuan), Rumah Kaca Kaktus, Pura Batu Meringgit dan Pura Terate Bang.

Ada banyak aktivitas yang dapat Anda lakukan selama mengunjungi kebun raya ini. Rombongan keluarga biasanya akan duduk-duduk di atas rumput hijau sambil mengawasi anak-anak mereka yang berlarian kesana kemari. Anda yang suka petualangan dapat mencoba berbagai permainan high rope yang tersedia di kawasan ini. Bagi Anda yang ingin berjalan-jalan menyusuri kebun raya ini, pengelola Kebun Raya Bali telah membagi rute perjalanan menjadi beberapa jalur, yakni jalur kuning, jalur ungu, jalur merah, jalur biru, dan jalur burung.

Jalur Kuning berawal dari candi bentar sebagai gerbang utama. Setelah itu Anda akan melewati jalan beraspal, jalan setapak, dan sesekali jalan padang rumput. Di sepanjang jalur kuning Anda akan menemui pohon cemara pandak yang menjadi inang bagi tumbuhan lain seperti paku-pakuan dan anggrek, koleksi tanaman upacara (daun sirih, bunga melati, kayu dadap, kunyit, dan lain-lain), bunga bangkai, tanaman pandan, Pura Batu Meringgit, serta patung Rahwana Jatayu dan Patung Kumbakarna Laga. Rute Jalur Kuning ini melingkar, sehingga perjalanan akan berakhir kembali di pintu utama tempat Anda masuk.

Jalur Ungu disediakan bagi Anda pecinta anggrek. Karena, di sepanjang jalur ungu ini Anda akan menemui berbagai koleksi tanaman anggrek serta koleksi kaktus. Anggrek tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga ada anggrek dari Amerika Utara dan Amerika Selatan. Hampir sebagian besar anggrek-anggrek tersebut berbunga sepanjang tahun dengan warna-warna yang mencolok seperti merah, ungu, jingga, maupun oranye. Jika Anda beruntung, Anda akan menemukan bunga anggrek hitam yang sangat terkenal itu.

Jalur Merah merupakan jalur yang melewati koleksi tanaman tradisional masyarakat Bali. Koleksi tanaman tersebut terbagi dalam beberapa jenis, yakni tanaman yang dapat dimakan, tanaman obat, tanaman bumbu masak, tanaman serat yang dapat digunakan sebagai bahan pakaian, tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, dan tanaman yang biasa digunakan untuk upacara. Selain itu, Anda juga akan melewati rumah tradisional Bali yang unik.

Jalur Biru adalah jalur dengan jalan berbatu yang mengelilingi koleksi tumbuhan paku. Tumbuhan paku yang ada mencapai 200 jenis yang terdiri dari paku suplir, paku pohon, paku rane, paku sarang burung, dan jenis-jenis lainnya. Di jalur biru ini juga terdapat tumbuhan paku yang sangat kuno yakni paku belalai gajah.

Jalur Burung merupakan jalur yang dirancang sedemikian rupa supaya Anda dapat melihat burung di habitatnya langsung. Ada berbagai jenis burung yang akan Anda jumpai di kawasan ini seperti burung isap madu Australia, burung walet sapi, burung tekukur, bondol jawa, dan burung kepodang.

Setelah lelah berjalan-jalan, sempatkanlah diri Anda untuk singgah sejenak ke Pura Ulun Danu yang terletak di tepi Danau Beratan. Suasana damai dan tenang yang ada di tempat itu akan mampu menghapus semua keletihan dan penat Anda. Selain itu, Anda juga bisa mampir ke kafe yang terletak tidak jauh dari Taman Usada.

Lokasi

Kebun Raya Eka Karya Bali terletak di kawasan Bedugul, atau tepatnya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Indonesia.

Akses

Akses menuju Kebun Raya Bali tergolong mudah karena tempat ini dapat dicapai menggunakan mobil atau sepeda motor. Kebun Raya Bali terletak 60 km arah utara Kota Denpasar dan dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Sedangkan dari Singaraja hanya berjarak sekitar 30 km ke arah selatan. Anda tidak disarankan naik angkutan umum karena keberadaanya yang sedikit serta jadwal yang tidak menentu.

Harga Tiket

Untuk dapat menikmati keindahan Kebun Raya Bali, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp 7.000,00, sedangkan tiket masuk mobil sebesar Rp 12.000,00. Selain tiket masuk, Kebun Raya Bali juga menerapkan peraturan pembayaran tiket parkir bagi kendaraan. Tiket parkir sepeda motor Rp 3.000,00, kendaraan roda 4 Rp 6.000,00, dan kendaraan roda 6 Rp 12.000,00.

Kebun Raya Bali buka mulai pukul 08.00 – 18.00 WITA. Beberapa area seperti taman anggrek, kaktus, dan begonia akan tutup lebih awal karena alasan keamanan. Kebun ini buka setiap hari. Libur hanya dilaksanakan pada hari raya Nyepi.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Kebun Raya Bali memiliki berbagai fasilitas dan sarana pendukung yang memberi kemudahan kepada wisatawan. Fasilitas tersebut antara lain: ruang pertemuan Nayaka Loka, Pura Ulun Danu, gedung pusat informasi, koperasi, stand suvenir, stand penjualan tanaman, kafe, dan perpustakaan. Perpustakaan yang ada di Kebun Raya Bali memiliki koleksi buku lengkap di bidang botani, pertanian, pertamanan, komputer, koran, dan majalah.

Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan dan ketenangan kebun raya di malam hari, pihak pengelola telah menyediakan tiga jenis penginapan yang dapat Anda sewa. Yang pertama adalah mess VIP dengan tarif Rp 200.000,00/malam. Anda dapat menikmati kebun yang luas dan pemandangan hutan tropis yang menawan. Pilihan kedua adalah mess Etnobotani dengan tarif Rp 250.000,00/malam. Mess ini memiliki tatanan rumah Bali tradisional dam terletak di dekat Danau Beratan. Penginapan yang terakhir adalah mess peneliti dengan tarif Rp 100.000/malam.

Selain penginapan, pengelola Kebun Raya Bali juga menyediakan program outbond yang tingkat kesulitannya disesuaikan dengan usia peserta. Untuk dapat mengikuti program outbond ini, Anda bisa menghubungi pihak pengelola secara langsung. Sedangkan bagi rombongan pelajar maupun wisatawan umum yang ingin mengetahui tentang seluk-beluk kebun raya, Anda dapat menghubungi pengelola untuk mendapatkan jasa pemandu wisata. Anda juga dapat memilih bahasa pengantar yang akan digunakan, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Di akhir kunjungan, Anda dapat mampir sejenak ke Pasar Candikuning yang terletak di kiri jalan Denpasar-Singaraja, dekat pintu masuk areal kebun raya. Di pasar ini Anda dapat membeli oleh-oleh berupa buah-buahan segar, sayur, tanaman hias, dan berbagi suvenir sebagai bukti bahwa Anda telah berwisata ke daerah Bedugul.